|
|
|
Mencari Jalanku
Aku mulai
kuliah saat berusia enam belas tahun. Tempat kuliahnya besar dan menyeramkan,
dan aku masih muda. Aku ingat mengantre untuk pendaftaran bersama banyak orang
lain. Aku merasa begitu canggung dan tak setara di dekat orang-orang yang
mestinya menjadi sebayaku. Bagaimana mungkin aku bisa menyamai orang-orang ini,
yang tampak begitu percaya diri dan yakin akan apa yang mereka inginkan?
Aku tak mempunyai tujuan yang spesifik. Aku tak tahu sama
sekali ingin jadi apa atau melakukan apa. Kuliah hanyalah langkah berikut yang
wajar. Aku merasa sangat tak cocok. Bagiku, orang-orang di sekitarku ini
merupakan penjelmaan bayanganku akan mahasiswa yang utuh. Mereka tertawa-tawa
bersama-sama teman-temannya, memegang secangkir kopi dan jadwal kuliah,membahas
pilihan mereka untuk semester mendatang. Sedangkan aku, aku memegang daftar mata
kuliah di selembar kertas yang dengan susah payah kukerjakan dengan abangku
malam sebelumnya. Kalau aku tidak berhasil mendapat mata kuliah yang itu, aku
akan terpuruk. Tak pernah terpikirkan olehku untuk membuat rencana cadangan. Aku
harus bagaimana? Aku ingin mati saja. Aku tahu aku tak boleh menangis, aku sudah
jadi mahasiswa kok! Mungkin muntah merupakan reaksi yang lebih diterima secara
sosial. Aku sendirian, gugup, dan merasa seperti sebuah kartun dalam museum yang
berisi lukisan tak ternilai.
Saat minggu pertama kuliah dimulai, aku mendapat tugas yang
menciutkan hati, yakni mencoba mencari letak ruang kelasku di kota yang mereka
sebut kampus ini. Aku sudah kelelahan, kewalahan saat mencoba memarkir mobil.
Karena merasa canggung, tak nyaman, dan sulit menangani urusan logistik, maka
belajar dan menuntut pendidikan adalah hal terakhir dalam pikiranku. Tapi, aku
melangkahkan kaki dan berdoa agar aku dapat menemukan pelipur lara di suatu
tempat. Dan aku menemukannya.
Ia memasuki hidupku dan memasuki auditorium besar yang lebih
mirip ruang bioskop daripada ruang kelas. Tapi bukannya mengambil kursi di aula
kuliah yang besar itu, ia malah terus berjalan ke depan kelas untuk mengajarkan
mata kuliah itu. Ia pandai dan kocak. Aku mulai mencari dalih apa pun untuk
mengunjungi kantornya. Dunia yang aneh dan baru ini mulai mengandung maka baru
untukku, dan aku mulai menjelajahinya dengan lebih berani. Itu kabar baiknya.
Kabar buruknya adalah aku naksir pada seorang pria yang usianya dua kali usiaku,
sudah menikah, dan berkeluarga. Tapi aku merasa tak berdaya di antara semua
perasaan dan pengalaman baru yang kualami ini. Apakah dewasa itu seperti ini?
Semuanya terasa begitu membingungkan.
Aku berprestasi baik di mata kuliahnya. Suatu hari ia
menanyakan apakah aku mau membantunya menilai ujian, mengarsip dan melakukan
pekerjaan kantoran, semacam asisten dosen. Tak perlu bertanya lagi. Dengan
berlalunya minggu, kami sering bersamaan. Aku belajar bagaimana minum kopi
sambil melewatkan waktu dengan percakapan filsafat yang panjang. Kami pun
menjadi sepasang sahabat.
Yang mengejutkanku, tahu-tahu ia bertanya apakah aku mau
mengasuh anaknya. Aku diundang untuk menjadi bagian dunia pribadinya. Aku diberi
petunjuk jalan untuk ke rumahnya dan diminta datang hari Kamis itu.
Aku tiba di rumahnya tepat jam enam. Ia menyambutku di pintu.
“Terima kasih kau mau melakukan ini. Ini penting sekali bagi saya.” Ia
menjelaskan bahwa istrinya sedang merawat ibunya yang sedang sakit dan membawa
bayi mereka yang berusia delapan tahun. Lily, anak mereka yang berusia enam
tahun, memerlukan perawatan khusus dan ia berharap bisa menemukan seseorang yang
cocok dengan anak itu.
“Lily menderita cystic fibrosis dan terlalu banyak hidupnya
yang dilewatkan di tempat tidur.” Hatiku trenyuh saat kulihat cinta yang
dimilikinya dalam matanya untuk gadis kecilnya.
Ia membawaku ke kamar anaknya dan, di tengah sebuah tempat
tidur tuan putri, duduklah malaikat cilik berambut pirang. Di samping tempat
tidurnya terdapat sebuah alat pernapasan yang tampak begitu janggal di situ.
Yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang tak siap kuhadapi.
“Ini gadis yang kuceritakan padamu, Manis,” ia berbicara
dalam bahasa isyarat kepada anaknya. Rupanya Lily juga tuna rungu. Aku panik.
Bagaimana aku bisa berkomunikasi dengannya? Bagaimana kalau ada keadaan darurat?
“Keterampilan bicaranya cukup baik, kau akan memahami
perkataannya. Kau mungkin akan segera mengerti sedikit bahasa isyarat. Saya
hanya pergi sekitar dua jam.” Ia meninggalkan nomor telepon darurat dan
informasi terkait, lalu ia pun pergi.
Aku duduk di tempat tidur dengan Lily, dan jemari kecilnya
mulai terbang. Aku mengangkat bahu untuk memberitahu bahwa aku tak mengerti. Ia
tersenyum manis dan mulai menggunakan suaranya. Ia menjelaskan bahwa ia lebih
mudah bernapas kalau ia berbicara menggunakan tangannya. Malam itu aku mendapat
pelajaran pertamaku dalam bahasa isyarat.
Dua bulan berikutnya aku banyak melewatkan waktu bersama
Lily. Seraya aku mengenal ayah Lily sebagai seorang ayah dan seorang suami, rasa
naksir itu berubah. Sekarang aku jatuh cinta pada anaknya. Ia begitu banyak
mengajarku: tak hanya bahasa isyarat, tapi juga agar menghargai setiap saat
dalam hidupku dan bahwa mencemaskan hal-hal remeh itu bodoh. Kami tertawa
bersama saat ia mengajarkan kata untuk ‘bodoh’, yakni tangan dikepalkan lalu
diketukkan ke samping dahi, seakan-akan mengetuk mencoba masuk. Ia tertawa saat
aku berpura-pura kesakitan gara-gara kepalaku terlalu keras. Dan ia berisyarat,
“Kau juga merasa sakit sama banyaknya kalau kau terlalu cemas.” Ia bijaksana
melebihi usianya. Selain memberiku cinta, Lily juga memberiku arah. Aku meraih
gelar sarjana dalam bidang pendidikan anak luar biasa, dengan penekanan dalam
pendidikan tuna rungu.
Aku terus berteman dengan Lily dan seluruh keluarganya
sepanjang masa kuliahku dan setelahnya. Rasa naksir yang kumiliki untuk dosenku
ternyata bermanfaat bagiku. Aku belajar banyak tentang kehidupan dari tangan
seorang anak kecil.
Beberapa tahun kemudian, aku diminta mengisyaratkan doa Bapa
Kami di pemakaman Lily. Semua orang di sana menceritakan bagaimana satu
kehidupan kecil ini begitu berpengaruh bagi begitu banyak orang. Dan, seperti
yang diajarkan Lily saat ia menunjukkan kata Aku mencintaimu, “Pastikan bahwa
saat kau menggunakan isyarat ini, kau sungguh-sungguh mengatakannya.”
(Chicken Soup for College
Soul – Cinta 101, Zan Gaudioso)
back