|
|
|
Indonesiaku di Tahun 2000
Kerinduan kampung halaman
mengantarkanku kembali ke Jakarta kota metropolitan
kemegahan gedung-gedungnya
memacu diri untuk sejuta mimpi. Kutelusuri kotaku tercinta,
mengharapkan sebuah kisah indah akan kubawa
tapi, telah tigapuluh menit kutunggu
kendaraan-kendaraan umum lalu lalang tanpa henti
tak ada tempat untukku, untuk berdiri.
Di perempatan jalan-jalan utama
pemandangan tetap tak berubah
walau berjenis kendaraan merek terbaru
yang harganya hanya mimpi bagi kami.
Pedagang asongan
pengangguran, pengemis, pengamen,
pedagang kaki lima, bahkan
pencopet dan garong
jumlahnya makin bertambah. Parah...
Hai reformasi!
Mana reformasimu? Mana janjimu?
Akan kau bawa kemana negeriku?
...hati merintih.....mati.
Suasana tak berhukum. Semua bisa
menjadi tuan selama mampu membayar.
Ya, semua bisa, semua bisa lancar.
Tetesan airmata darah Ibu Pertiwi, seolah
tak dirasakan.
Hidup dipacu; menyesuaikan keadaan tanpa iman.
Oh, pahlawan bangsa,
ampuni hamba yang bertekuk lutut tak berdaya
melihat kenyataan, dari janji-janji hampa
suatu bangsa.
Apakah Indonesia nan indah permai
hanya suatu nuansa?
back