|
|
|
Hamil Tanpa Bantuan Sperma
http://www.satumed.com/index.html/cetak/0,5132,0/
Seorang wanita hamil tanpa sperma pria? Mungkin berita ini kita anggap isapan
jempol belaka. Tapi jangan kaget bila hal yang kita anggap tak masuk akal ini
bakalan terjadi di masa mendatang.
Sebuah tim peneliti asal Australia baru saja menemukan cara
baru untuk membuahi sel telur dengan menggunakan bahan genetik dari sel apapun
dalam tubuh, bukan menggunakan sperma. Dan kabarnya teknik ini sangat bermanfaat
bagi pasangan tak subur yang sangat mendambakan hadirnya buah hati di
tengah-tengah mereka.
Adalah Dr. Orly Lacham-Kaplan, dari Monash University di
Melbourne yang berada di balik pengembangan teknik anyar ini. Ia memaparkan
bahwa pihaknya telah berhasil membuahi sel telur tikus dengan menggunakan
sel-sel tubuh lainnya yang disebut sel-sel somatik.
Untuk melaksanakan teknik ini, mereka meniru proses yang
terjadi selama pembuahan normal dimana dua set kromosom X dalam sebuah sel telur
dipisahkan dan salah satunya kemudian 'dikeluarkan'. Sedang satu set sisanya
akan membentuk kombinasi dengan satu set kromosom dari sel sperma.
Namun, mereka belum bisa memastikan apakah embrio-embrio
tersebut dapat hidup terus. Hal ini baru bisa diketahui setelah embrio
dipindahkan ke dalam rahim calon ibu untuk perkembangan selanjutnya.
"Dalam enam hingga delapan bulan ke depan, kami yakin bahwa
kami bisa menemukan jawabannya, dan kami akan tahu apakah teknologi ini dapat
ditindaklanjuti dan dapat dimanfaatkan untuk aspek-aspek klinis," kata Dr.
Lacham-Kaplan.
Dr. Lacham-Kaplan menuturkan bahwa dirinya mulai menekuni
penelitian ini karena hasratnya yang besar untuk meringankan beban kaum pria
yang mendambakan anak tapi tak mampu karena tidak memiliki sel sperma ataupun
sel-sel benih yang berpotensi menjadi sel sperma.
Revolusioner
Pakar fertilitas Prof. Robert Winston memandang teknik ini
betul-betul revolusioner dan memiliki potensi penting. "Manfaat nyata dari
teknik ini dirasakan oleh kaum pria yang tidak dapat menghasilkan sperma. Selama
ini, kloning selalu menjadi pilihan mereka."
“Keunggulan dari teknik ini adalah membuat kloning menjadi
sama sekali tidak perlu. Sebenarnya teknik ini jauh lebih baik dan secara etis,
jauh lebih bisa diterima karena kromosom-kromosomnya diperoleh dari dua orang.”
Menurut Winston, secara teoritis orang bisa saja melakukan
reproduksi sendirian dengan menggunakan teknik ini. Hanya saja, penggunaan
kromosom dari orang yang sama secara masif dapat meningkatkan risiko kelainan
genetik pada bayi yang dihasilkan.
Society for the Protection of the Unborn Child (SPUC) masih
belum mengamini teknik ini. Seorang juru bicara mengatakan perkembangan
cara-cara baru untuk menghasilkan embrio semakin menurunkan nilai kemanusiaan
yang hanya dijadikan suatu komoditas di mata banyak orang.
Kelompok ini tidak menyangkal keinginan untuk memiliki anak
dari setiap orang, tapi mereka mengingatkan supaya para orang tua juga
memikirkan kepentingan si bakal anak. Kalau cara yang ditempuh berisiko terhadap
perkembangan jasmani si bakal anak, sebaiknya cara ini dihindari. Mereka
menyerukan supaya pengembangan metode baru ini ditangguhkan.
back