|
|
|
Gembala yang jadi Tukang Rombeng-sebuah ilustrasi
Akulah
gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya
(Yohanes 10:11).
Untuk orang seperti siapakah Dia datang? Untuk bilangan waktu
manakah Dia menjelang?
Berikut adalah kisah yang menunjukkan kepada siapa dan kapan
Dia akan datang. Semuanya, hanya satu saja dasarnya: Cinta!
Menjelang fajar, pada suatu hari Jumat, saya melihat seorang
pria muda, tampan, dan kuat, berjalan di lorong-lorong kota kami. Dia menarik
gerobak yang penuh dengan pakaian baru sambil berseru dengan suara nyaring,
"Rombeng!" Ah, udara berbau busuk dan cahaya yang muram itu dilintasi oleh suara
musik yang indah.
"Rombeng! Baju lama ditukar baju baru! Saya menerima baju
rombeng! Rombeng!"
"Sekarang inilah keajaiban," pikir saya dalam hati, karena
pria ini tinggi besar, dan lengannya kukuh seperti dahan pohon, keras dan
berotot. Matanya menyorotkan kecerdasan. Apakah diatidak dapat mencari pekerjaan
yang lebih baik sehingga memilih menjadi tukang rombeng di kota yang kumuh? Saya
mengikutinya karena keingintahuan saya yang besar. Dan, saya tidak kecewa.
Tukang rombeng itu melihat seorang wanita duduk di beranda belakang. Dengan
saputangan menutupi wajahnya, dia menangis, mengeluh dan mencucurkan
ribuan tetes air mata. Lutut dan sikunya membentuk huruf X. Bahunya
bergetar.Hatinya hancur. Tukang rombeng itu menghentikan gerobaknya. Dengan
tenang, dia menghampiri wanita itu sambil menginjak kaleng-kalengkosong, mainan
rusak, dan barang rongsokan lainnya.
"Berikan barang rombengmu," ujar tukang rombeng itu dengan
sabar, "dan saya akan memberimu barang baru." Tukang rombeng itu melepaskan
saputangan dari mata wanita itu. Wanita itu memandangnya, dan tukang rombeng itu
meletakkan sebuah saputangan linen yang baru dan bersih ke telapak tangannya.
Mata wanita itu beralih dari pemberian itu ke pemberinya.
Kemudian, saat tukang rombeng itu menarik gerobaknya kembali,
dia melakukan hal yang aneh: Dia mengusapkan saputangan yang penuh noda itu ke
wajahnya sendiri, dan kemudian dia mulai menangis. Dia menangis begitu kerasnya
seperti wanita itu sehingga pundaknya bergetar. Namun, wanita itu tidak lagi
menangis.
"Ini ajaib," ujar saya kepada diri saya sendiri, dan saya
mengikuti tukang rombeng seperti seorang anak yang ingin membongkar suatu
misteri. "Rombeng! Rombeng! Baju tua saya ganti dengan baju baru!" Tidak lama
kemudian, ketika matahari makin tinggi, tukang rombeng itu mendatangi seorang
gadis yang kepalanya dibalut. Mata gadis itu menatap kosong. Darah membasahi
perbannya. Aliran darah mengalir di pipinya. Sekarang, tukang rombeng yang
tinggi itu menatap gadis itu dengan rasa kasihan, dan dia mengeluarkan topi
wanita dari gerobaknya.
"Berikan perbanmu," ujarnya, "dan saya akan memberimu sebuah
topi baru." Anak gadis itu hanya dapat menatap tukang rombeng dengan heran
ketika dia mulai melepaskan perban dari kepalanya dan memasangnya di kepalanya
sendiri. Kemudian, dia memasang topi baru itu di kepala gadis kecil itu. Dan,
saya terperangah dengan apa yang saya lihat. Sekarang, ganti kepala tukang
rombeng itu yang terluka. Di alisnya mengalir darah segar, darahnya sendiri!
"Rombeng! Rombeng! Saya menerima barang rombeng!" teriak
tukang rombeng yang kuat, cerdas tetapi menangis dan berdarah. Matahari
menyilaukan mata saya dan tukang rombeng itu tampak semakin tergesa-gesa.
"Apakah kamu mau bekerja?" tanyanya kepada seorang yang bersandar di tiang
telepon. Pria itu menggelengkan kepalanya.
Tukang rombeng itu mendesaknya, "Apakah kamu memiliki
pekerjaan?" "Kamu gila ya?" ujar orang itu sambil menyeringai. Dia tidak lagi
bersandar di tiang telepon, tetapi membuka lengan bajunya dan menarik tangannya
dari kantung jaketnya.
Dia tidak mempunyai tangan. "Berikan jaketmu kepada saya dan
saya akan memberimu jaket saya," perintah tukang rombeng itu. Suaranya
memancarkan otoritas! Pria buntung itu melepaskan jaketnya. Demikian juga tukang
rombeng itu. Dan, saya gemetar mengetahui apa yang saya lihat: lengan tukang
rombeng itu melekat di jaketnya dan ketika pria buntung itu mengenakan jaket,
lengan itu terpasang di pundaknya. Sekarang, tukang rombeng itu buntung sebelah
tangannya. "Pergilah bekerja," ujar tukang rombeng itu. Setelah itu, tukang
rombeng menjumpai seorang pemabuk yang berbaring pingsan di bawah selimut
tentara. Pemabuk itu tampak tua dan memprihatinkan. Tukang rombeng itu mengambil
selimut pemabuk itu dan membungkuskannya ke tubuhnya sendiri, lalu menyelimuti
pemabuk tua itu dengan selimut baru.
Dan, sekarang saya harus berlari supaya bisa mengikuti tukang
rombeng itu.
Meskipun dia menangis menjadi-jadi, darah bercucuran di
wajahnya, menarik gerobak dengan satu lengan, tersandung, terjatuh berkali-kali,
kelelahan, tua dan sakit, dia melangkah dengan kecepatan tinggi. Dengan "kaki
laba-laba" dia menyusuri lorong-lorong kota itu.
Saya terkejut melihat perubahan pria ini. Saya sedih melihat
penderitaannya. Meskipun demikian, saya ingin melihat ke mana dia pergi dengan
begitu tergesa-gesa dan saya juga ingin mengetahui apa yang membuatnya melakuan
semua ini.
Tukang rombeng yang sekarang bertubuh kecil dan tua itu pergi
ke suatu tempat. Dia menghampiri sebuah lubang sampah. Saya ingin membantunya
mengerjakan apa pun, namun saya menarik diri dan bersembunyi. Dia mendaki sebuah
bukit. Dengan usaha yang keras, dia membersihkan sebuah tempat di bukit itu.
Kemudian, dia menarik napas. Dia berbaring. Dia memakai sebuah saputangan dan
jaket sebagai bantalnya. Dia menutupi tulang-tulangnya dengan selimut tentara.
Dan, dia mati.
Oh, saya menangis menyaksikan kematian seperti itu! Saya
masuk ke sebuah mobil rongsokan dan menangis serta meratap seperti seorang yang
tidak punya harapan, karena saya mulai mencintai tukang rombeng itu. Setiap
wajah yang saya kenal memudar ketika saya melihat wajah tukang rombeng itu. Saya
sangat menghargai tukang rombeng itu, tetapi dia mati. Saya menangis terus
sampai jatuh tertidur.
Saya tidak tahu - bagaimana saya bisa tahu? - bahwa saya
tidur melewati Jumat malam dan Sabtu malam. Tetapi kemudian, pada Minggu pagi,
saya tersentak bangun.Cahaya - sinar yang murni - menghunjam wajah saya yang
kecut, dan saya mengerjapkan mata saya. Saya melihat keajaiban yang terakhir dan
pertama. Tukang rombeng itu bangun, melipat selimutnya dengan amat hati-hati.
Ada goresan luka di dahinya, namun dia hidup! Di samping itu, dia juga sehat!
Tidak ada kesan sedih atau tua di wajahnya, dan semua rombengan yang berhasil
dikumpulkannya tampak bersih dan bersinar. Saya tidak sanggup menatap semua itu
lagi.
Saya gemetar melihat semua itu. Saya berjalan mendekati
tukang rombeng itu. Saya memberi tahu nama saya dengan rasa malu, karena saya
adalah makhluk yang patut dikasihani di depannya. Kemudian, saya melepaskan
pakaian saya di tempat itu, dan saya berkata kepadanya dengan penuh permohonan,
"Beri saya pakaian baru."
Dia memakaikan pakaian baru di tubuh saya. Saya menjadi
ciptaan baru ditangannya. Tukang rombeng itu, tukang rombeng itu, tukang rombeng
itu adalah Kristus!
back