|
|
|
Angkutan Umum dan Terlambat Sekolah
Kesulitan
angkutan itu menyebabkan pelajar sering datang terlambat ke sekolah... (RARA/UH/1998)
Angkutan umum sangat dibutuhkan oleh hampir semua orang yang
tidak memiliki angkutan pribadi. Saya juga pernah mengalaminya kurang lebih
selama 6-7 tahun. Tepatnya sejak SMP. Dan dari dulu hingga sekarang, kondisi
angkutan umum itu tidak pernah berubah, kecuali tarifnya.
Tentang angkutan umum yang mengangkut penumpang melebihi
kapasitas, itu sudah bukan hal aneh. Dan jika kita menanyakan pada awak busnya
atau supir pete-petenya, jawabannya tak jauh dari ini: “Ngejar setoran !”
Kadang para kenek itu juga suka asal. Mereka mengatakan,
“Bayar dua ratus aja minta nyaman ?!” (Dua ratus perak adalah tarif umum untuk
yang berseragam sekolah - Red). Sikap semacam itu juga merembet ke hal lain,
misalnya tidak mau mengangkut penumpang yang masih berseragam sekolah. Tentu
karena anak sekolah membayar hanya separuh ongkos penumpang umum. padahal yang
menentukan besarnya tarif bus dan pete-pete untuk pelajar itu adalah pemerintah,
bukan anak sekolah sendiri.
Kalau pagi, saya sering juga melihat, sopir pete-pete
menjumlah anak sekolah yang ada dalam armadanya. Perhitungan mereka, 4:6.
Artinya empat orang anak sekolah dan enam orang penumpang umum. Perbandingan
semacam itulah yang mereka pegang, kendati di jalan jelas-jelas lebih banyak
calon penumpang anak sekolah.
Kesulitan angkutan itu menyebabkan pelajar sering datang
terlambat ke sekolah. Hukuman alpa sehari menjadi hal biasa, hukuman disuruh
membersihkan sekolah, tidak masuk satu jam pertama, dikurung di perpustakaan
merupakan hal yang nggak asing lagi, bahkan ada siswa yang nongkrong di luar
halaman sekolah. Mereka nggak boleh masuk.
Memang, sekolah tidak pernah mau tahu persoalan yang menimpa
anak muridnya. Yang penting, masuk jam tujuh lewat lima belas pagi, dengan waktu
toleransi lima menit. Murid harus berada di sekolah 10 menit sebelumnya.
Rasanya tidak benar kalau kita menyalahkan para supir
angkutan umum itu. Mereka toh berhak menerima atau menolak penumpang. Memang
sudah ada himbauan pemerintah. Tapi itu semua tinggal suara. Mereka yang duduk
di belakang meja itu tidak pernah mengalami masalah seperti yang dialami
pelajar. Mereka cukup percaya dengan bawahannya. Lagipula mereka tidak
menggunakan angkutan umum sesering pelajar.
Supir juga sering menyalahkan pelajar. Misalnya dengan
menganggap pelajar itu bikin onar, tukang corat-coret. Bagaimana dengan yang
tidak pernah melakukan itu semua?
Kondisi angkutan itu sendiri masih jauh terlihat dari nyaman.
Di sana-sini terlihat sampah dan coretan mengganggu. Ini masih ditambah dengan
jumlah penumpang yang melebihi kapasitas. Juga cara mengemudikan mobil yang
ugal-ugalan lagi-lagi demi mengejar setoran.
Yang muncul kemudian adalah saling menyalahkan. Ini tidak
akan ada habisnya. Pihak pengelola angkutan umum merasa mereka sudah menjalankan
tugasnya dengan baik. Pemerintah mengklaim peraturan yang dibuat sudah yang
terbaik. Pihak sekolah merasa peraturan yang ada mutlak ditaati. Sementara para
pemakai jasa angkutan sudah membayar ongkos, jadi boleh melakukan apa saja.
Yang kena getahnya tinggal kita-kita ini sebagai anak
sekolahan.