Free Web Hosting by Netfirms
Web Hosting by Netfirms | Free Domain Names by Netfirms

Angkutan Umum dan Terlambat Sekolah

     

Kesulitan angkutan itu menyebabkan pelajar sering datang terlambat ke sekolah...

    Angkutan umum sangat dibutuhkan oleh hampir semua orang yang tidak memiliki angkutan pribadi. Saya juga pernah mengalaminya kurang lebih selama 6-7 tahun. Tepatnya sejak SMP. Dan dari dulu hingga sekarang, kondisi angkutan umum itu tidak pernah berubah, kecuali tarifnya.

    Tentang angkutan umum yang mengangkut penumpang melebihi kapasitas, itu sudah bukan hal aneh. Dan jika kita menanyakan pada awak busnya atau supir pete-petenya, jawabannya tak jauh dari ini: “Ngejar setoran !”

    Kadang para kenek itu juga suka asal. Mereka mengatakan, “Bayar dua ratus aja minta nyaman ?!” (Dua ratus perak adalah tarif umum untuk yang berseragam sekolah - Red). Sikap semacam itu juga merembet ke hal lain, misalnya tidak mau mengangkut penumpang yang masih berseragam sekolah. Tentu karena anak sekolah membayar hanya separuh ongkos penumpang umum. padahal yang menentukan besarnya tarif bus dan pete-pete untuk pelajar itu adalah pemerintah, bukan anak sekolah sendiri.

    Kalau pagi, saya sering juga melihat, sopir pete-pete menjumlah anak sekolah yang ada dalam armadanya. Perhitungan mereka, 4:6. Artinya empat orang anak sekolah dan enam orang penumpang umum. Perbandingan semacam itulah yang mereka pegang, kendati di jalan jelas-jelas lebih banyak calon penumpang anak sekolah.

    Kesulitan angkutan itu menyebabkan pelajar sering datang terlambat ke sekolah. Hukuman alpa sehari menjadi hal biasa, hukuman disuruh membersihkan sekolah, tidak masuk satu jam pertama, dikurung di perpustakaan merupakan hal yang nggak asing lagi, bahkan ada siswa yang nongkrong di luar halaman sekolah. Mereka nggak boleh masuk.

    Memang, sekolah tidak pernah mau tahu persoalan yang menimpa anak muridnya. Yang penting, masuk jam tujuh lewat lima belas pagi, dengan waktu toleransi lima menit. Murid harus berada di sekolah 10 menit sebelumnya.

    Rasanya tidak benar kalau kita menyalahkan para supir angkutan umum itu. Mereka toh berhak menerima atau menolak penumpang. Memang sudah ada himbauan pemerintah. Tapi itu semua tinggal suara. Mereka yang duduk di belakang meja itu tidak pernah mengalami masalah seperti yang dialami pelajar. Mereka cukup percaya dengan bawahannya. Lagipula mereka tidak menggunakan angkutan umum sesering pelajar.

    Supir juga sering menyalahkan pelajar. Misalnya dengan menganggap pelajar itu bikin onar, tukang corat-coret. Bagaimana dengan yang tidak pernah melakukan itu semua?

    Kondisi angkutan itu sendiri masih jauh terlihat dari nyaman. Di sana-sini terlihat sampah dan coretan mengganggu. Ini masih ditambah dengan jumlah penumpang yang melebihi kapasitas. Juga cara mengemudikan mobil yang ugal-ugalan lagi-lagi demi mengejar setoran.

    Yang muncul kemudian adalah saling menyalahkan. Ini tidak akan ada habisnya. Pihak pengelola angkutan umum merasa mereka sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Pemerintah mengklaim peraturan yang dibuat sudah yang terbaik. Pihak sekolah merasa peraturan yang ada mutlak ditaati. Sementara para pemakai jasa angkutan sudah membayar ongkos, jadi boleh melakukan apa saja.

    Yang kena getahnya tinggal kita-kita ini sebagai anak sekolahan.

(RARA/UH/1998)

back